Refleksi Empat Tahun Perantauanku

 
 Novel Paulo Coelho yang paling diminati para pembacanya dan dipenuhi dengan nilai-nilai kehidupan dan makna sebuah impian(diunduh dari http://ikaria-hitam.blogspot.com/2005/03/resensi-buku-sang-alkemis-paulo-coelho.html)


Paulo Coelho melalui karya Sang Alkemisnya(2009) menggarisbawahi dan menekankan arti pentingnya bagaimana suatu hasrat dan tujuan sejati kehidupan dari seorang manusia. Diawali dengan percakapan tentang "takdir", Coelho membentangkan percakapan yang mendalam antara Sang Alkemis dengan seorang anak gembala yang bernama Santiago.
Kata Sang Alkemis: " Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka.Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu."
Tapi Si anak gembala itu tidak memahami sama sekali apa yang diucapkan oleh Sang Alkemis. Namun dalam benaknya ia ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan "daya misterius" itu. Sang Alkemis melanjutkan penuturannya:

"Daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif, tapi sebenarnya menunjukkan padamu cara mewujudkan takdirmu. Daya ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu, sebab ada satu kebenaran mahabesar di planet ini: siapa pun dirimu, apa pun yang kau lakukan, kalau engkau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu di dunia ini."
"Walaupun yang kuinginkan hanyalah berkelana? Atau menikah dengan putri si saudagar kain?", kata Santiago mencoba memahami jalan pikir Sang Alkemis.
Sang Alkemis menjawab:
"Ya, atau bahkan mencari harta karun. Jiwa Dunia dihidupi oleh kebahagiaan orang-orang. Juga oleh ketidakbahagiaan, rasa iri, dan cemburu. Satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya. Semuanya satu adanya. Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya."



Begitulah kisah inspiratif karya Paulo Coelho yang paling disukai oleh para pembacanya, termasuk perantau. Buku-buku karangannya sudah terjual lebih dari 43 juta copy di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa dunia yang beragam.

Perantau sengaja membuka kisah Sang Alkemis di atas supaya ada pegangan dalam menuliskan refleksi perantauan yang sudah dialami dan dirasakan selama  ini.Ya, tengah tahun, tepatnya 14 Juni 2007, dimulailah era "berdikari"(tidak bergantung dengan orang tua lagi) bagi perantau. "Merantau, merantau, dan merantau", begitu kata yang selalu terngiang-ngiang setelah lulus dari kampus hijau tercinta di Lampung. Dan tepat pada 14 Juni inilah momen perantauan diberangkatkan! Sebab itu perantau tak akan pernah melupakan momen 14 Juni ketika mengangkatkan kakinya dari rumah orang tua dan lepas dari bawah ketiak orang tua. Lelaki dewasa - khususnya dari etnisnya perantau - etnis Batak, tidak bisa lagi bergantung kepada orang tuanya. Entah bagaimana caranya semua orang yang sudah dikatakan 'dewasa' menurut standar psikologi orang Indonesia haruslah bisa berdiri di atas kaki sendiri. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.Ya, ini sebagai bekal si anak yang sudah dewasa untuk membangun bahtera rumah tangga sendiri nantinya. Lebih kurang begitulah secara sederhana perantau mengasumsikannya.

Sekarang, genaplah sudah empat tahun perantau 'berjuang' di tanah perantauan ini. Tiga setengah tahunnya ada di sini : Yogyakarta. Masih banyak lagi yang belum terpahami dan masih menjadi misteri bagi kehidupan perantau di sini. Takdir, sebagaimana Coelho mengungkap, "Apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka.Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin." Tapi perantau belum tahu takdirnya. Perantau belum mencapai titik kehidupan yang terang dan membikin segalanya menjadi mungkin dan jelas. Daya misterius itu belum lagi tersibak untuk perantau. Atau memang perantau yang memang tak peka memahami kehidupan dan memaknai kehidupannya? Entahlah.

Pada empat tahun refleksi perantauan ini, hanya rasa syukur yang bisa dipanjatkan padaNya. Rasa syukur karena hingga kini masih selalu berada dalam lindungan penyertaanNya saja. Tentu bukan lantas kemudian menjadi berpuas diri dengan keadaan ini lalu ogah-ogahan untuk menggapai impiannya. Harus bermimpi, sebagaimana ungkapan Sang Alkemis kepada setiap orang muda yang mewujudkan takdirnya. "Beranilah bermimpi, mendambakan segala yang diinginkan terwujud dalam hidup ini", begitu kata Sang Alkemis seolah menyiratkan makna pada perantau. Juga film "Sang Pemimpi" yang telah menguatkan perantau untuk terus bermimpi dan meraih setiap impian itu.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.