"Ideologi Gaya Hidup"
Wandi Barboy Silaban, Jurnalis Lampung Post
BUKU berjudul Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia yang dieditori Idi Subandy Ibrahim (2005) ini masih kentara relevansinya dengan kecenderungan yang terjadi pada masa kini. Buku yang tetap relevan di era kiwari.
Mumpung lagi semangat-semangatnya dalam bermedia sosial tidak salah membaca buku ini sebagai referensi. Buku yang sekarang terasa memiliki pijakan sebab banyak sekali fenomena gaya hidup (lifestyle) yang muncul di hadapan. Kekinian dan “jaman now”, merujuk istilah populer saat ini.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan tokoh intelektual, sastrawan, dan budayawan Indonesia terkemuka dalam bidangnya masing-masing.
Berkategori sebagai bacaan "cultural studies", wacananya terdiri dari empat bagian. Bagian pertama bertema “Budaya Massa atau Budaya Pop: Sebuah Pengantar” dengan senarai catatan dari tokoh -tokoh seperti Sapardi Djoko Damono, Kuntowijoyo, Ashadi Siregar, dan Clifford Geertz."
Selanjutnya, bagian kedua menawarkan isu “Budaya Media dan Budaya Citra” dengan sekumpulan tulisan diantaranya dari Umar Kayam, Darmanto Jatman, Marwah Daud Ibrahim, Jiwa Atmaja, Danarto, dan Afrizal Malna.
Lalu, bagian ketiga membawa konsep “Budaya Simbolik dan Komodifikasi Gaya Hidup” dengan para penulis seperti Onghokham, Bre Redana, Alfathri Adlin, Yasraf Amir Piliang, Masri Singarimbun, Sarlito Wirawan Sarwono, Jalaluddin Rakhmat, dan Ashadi Siregar.
Bagian Keempat atau terakhir dengan sebuah ide “Budaya Massa: Hegemoni Kesadaran dan Industri Budaya” dengan para penulis diantaranya Ariel Heryanto, William H. Frederick, Keith Foulcher, Krishna Sen, Saraswati Sunindyo, dan terakhir Yasraf Amir Piliang.
Demikian empat bagian isi buku tersebut.
Ada sejumlah nama yang menyumbang lebih dari satu tulisan. Menilik nama-nama yang menorehkan pemikirannya dalam buku ini, kita berjumpa dengan para maestro yang telah mengukir jejak keahlian dan kedalaman ilmu di bidangnya masing-masing.
Pemikiran mereka tetap menyala dalam konteks zaman ini dan menjawab kegelisahan yang terus berulang sepanjang waktu.Pemikiran tokoh -tokoh ini melampaui zamannya. Mereka mencatat fenomena, mengalisis gejala zaman, mendalami kajian keilmuan, dan lainnya.
Mari tengok catatan bernas yang tertulis pada sampul belakang buku ini. Semua bermula dari sejumlah pertanyaan. Mengapa shopping mall kian menjamur, sementara pasar tradisional mulai menyusut? Kenapa produksi ponsel terus digenjot, tapi fasilitas telepon umum mati? Kok bisa produksi mobil pribadi kian menderas, sedangkan kendaraan umum senantiasa kekurangan?
Gaya hidup berikut simbol-simbolnya kini tengah mengguncang struktur kesadaran manusia. Masyarakat cenderung terserap dalam keperkasaan kebudayaan pop yang kian hegemonik dengan segala atributnya. Kultur jadi komoditas, dan dalam menapaki kehidupannya, kebanyakan orang tampak lebih mementingkan "kulit" ketimbang "isi".
Menurut sejumlah tokoh yang menuliskan pemikirannya dalam buku ini - di balik semua fenomena itu - ada mesin besar "ideologi gaya hidup", "ideologi waktu senggang", "halusinasi haus kenikmatan", dan mitologi penampilan diri yang mendorong manusia modern terus mengonsumsi kehidupan yang "wah" dan penuh hura-hura. Begitu.

Tidak ada komentar: